Monday, June 24, 2013

Rumah Sakit Berwawasan Lingkungan Lebih Dari Sekadar “Hijau”

MENGAPA GREEN?

Kekhawatiran terhadap kemerosotan lingkungan menginisiasi kebijakan baru yang bertujuan untuk meminimalisir kerusakan. Dalam skala makro dan mikro dikenal dengan konsep kota hijau untuk skala makro dan green building dan green infrastructure pada tataran mikro.Green building awalnya adalah aplikasi rooftop pada atap bangunan yang selama ini hanya menjadi “ruang kosong”. Melalui konsep green building ruang kosong ini dimanfaatkan untuk kegiatan urban farming. Rooftop berfungsi mengurangi emisi CO2 serta menjadi solusi ekologi alami untuk mengurangi dampak dari Urban Heat Island (UHI).

Saat ini konsep bangunan hijau tidak lagi berorientasi pengadaan “fisik” hijau pada bangunan melainkan sebagai suatu sistem pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan dan komprehensif. Prinsipnya adalah bahwa bangunan hijau merupakan bangunan yang memuat aspek ekologis seperti konservasi energi, penyesuaian dengan iklim, minimalisasi sumberdaya dan memperhatikan site atau lokasi sekitar kawasan rumah sakit dengan pemukiman warga.

Green building dimaknai sebagai upaya memaksimalkan pemakaian energi pada bangunan untuk mengurangi emisi CO2 dan menjaga keseimbangan lingkungan. Green building diwujudkan dalam sebuah karya kompetisi bangunan hemat energi tingkat ASEAN oleh Jimmy Priatman (Dosen Arsitektur Universitas Kristen Petra Surabaya) dengan mengembangkan green building berbasis efisiensi energi. Jimmy merancang gedung empat tingkat dengan kapasitas 13.000 orang dan melakukan efisiensi energi dalam jumlah besar melalui teknik tata bangunan dan tata udara yang lebih efisien sehingga mampu menghemat energi listrik 50-60%.

BANGUNAN HIJAU UNTUK RUMAH SAKIT

 Green Building Council California
Bangunan hijau khususnya untuk rumah sakit pada tidak sepenuhnya sama dengan penerapan bangunan hijau untuk bangunan lain. Hal ini disebabkan karena selain konservasi energi, pengelolaan limbah rumah sakit, letak posisi rumah sakit terhadap arah angin merupakan pertimbangan penting. Laman Hospital Review menjelaskan pada tahun 1970, rumah sakit di California telah menerapkan konsep “hijau” dan tidak dibatasi pada hijau secara fisik dengan pembuatan taman tetapi lebih menekankan pada desain rumah sakit ramah lingkungan. Strategi yang dilakukan adalah dengan memberikan sertifikasi LEED (Leadership in Energy and Environmental Design) yang mengembangkan prinsip ekologi seperti, efisiensi penggunaan AC, area untuk cahaya ambient, proses daur ulang yang berlangsung alami, tidak ada campur tangan manusia.

Sutter Health (Sutter Medical Center of Santa Rosa) merupakan rumah sakit yang mengembangkan green design. Konsep green design tersebut adalah rumah sakit modern, green building, dan tahan gempa. Rumah sakit Sutter Health menekankan pada 4 (empat) hal pengelolaan green hospital yaitu: (1) konservasi sumberdaya, (2) energi alternatif, (3) konservasi air, (4) green house gas. Sutter Medical Center terus mengevaluasi sistem energi lain dan teknologi berkelanjutan untuk mengurangi polusi karbondioksida. Potensi sumber energi masa depan yang dikembangkan adalah solar panel dan photovoltaics.

Selain Sutter Medical Center, Gundersen Health System bekerja sama dengan beberapa rumah sakit di Wisconsin mengembangkan green building dan green energy. Gundersen Health System mengembangkan infrastruktur energi yaitu geothermal heat pump system, yang dimanfaatkan sebagai sumber penghasil energi. Cara kerja geothermal heat pump system pada rumah sakit dengan memanfaatkan panas bumi untuk menghasilkan energi melalui medium air yang tertampung pada sumur pompa panas, nantinya akan menambahkan panas pada gedung khususnya pada musim dingin. Energi yang dihasilkan dari geothermal juga dimanfaatkan untuk sterilisasi peralatan medis. Penggunaan geothermal mampu menghemat pemakaian energi sebesar 70-80 KBTU/tahun dan mengurangi ketergantungan energi pada bahan bakar fosil.

BAGAIMANA MEWUJUDKAN GREEN HOSPITAL?

Wacana mengenai green hospital di Indonesia  memerlukan kajian lebih lanjut, tidak terbatas pada lingkup penerapan green hospital saja. Kajian lain terletak pada kebijakan apakah dapat diterapkan untuk semua jenis rumah sakit? Berikutnya, apakah penerapan green hospital akan membebani biaya pengobatan pasien? Sebelum memberlakukan green hospital diperlukan tahapan dalam penetapan standarisasi. Tahapan ini meliputi hirarki periode jangka waktu penerapan standarisasi. Misalnya pada tahap pertama periode (5-10 tahun), rumah sakit yang dipersiapkan menuju green hospital dapat memenuhi kriteria pada tataran pemanfaatan sumberdaya alam seperti penyediaan ruang terbuka hijau, green belt, sistem pencahayaan dalam ruangan dan rooftop garden.

Penerapan bangunan hijau untuk rumah sakit (gedung lama) dapat dimulai dengan merekonstruksi beberapa bagian bangunan untuk menata kembali sirkulasi udara dan sistem pencahayaan dalam ruangan rumah sakit. Menggunakan jendela berukuran besar agar cahaya bisa menerangi dan memaksimalkan suhu ruangan. Di sekeliling bangunan rumah sakit atau bangunan pengelolaan limbah dapat diberi sekat berbentuk green belt (jalur hijau) menggunakan tanaman Shorea Lepsula yang berfungsi untuk menyerap CO2. Semakin tinggi kerapatan tanam dari tanaman akan berpengaruh terhadap tingkat penyerapan CO2.

Pada tahap selanjutnya, periode (10-15 tahun) kriteria green hospital diwujudkan melalui greenery system. AC hemat energi, pengelolaan air bersih menggunakan sistem penampung air hujan pada sistem tangki bawah tanah. Penerapan selanjutnya periode ketiga (15-20) pada rumah sakit dengan menerapkan standarisasi green hospital melalui penyediaan prasarana fisik seperti solar cell, photovoltaic, geothermal heat pump system, dan pengelolaan limbah daur ulang rumah sakit. Tindak lanjut terhadap penerapan bangunan hijau rumah sakit berwawasan lingkungan dapat dilakukan dengan melampirkan kriteria bangunan hijau (green hospital) pada pembuatan dokumen AMDAL rumah sakit.

Pertimbangan lainnya adalah menentukan/melakukan klasifikasi tipe rumah sakit green hospital. Sebagian rumah sakit tidak diharuskan menyediakan sarana fisik seperti penyediaan solar cell, photovoltaic, dan sumber energi alternatif lainnya. Memenuhi standarisasi green hospital untuk rumah sakit tipe A (tingkat Kabupaten) cukup dengan mengembangkan pembuatan rooftop, greenbelt (jalur hijau), dan sistem pencahayaan dengan memanfaatkan sinar matahari. Kebijakan selanjutnya yaitu memberikan sertifikasi LEED bagi rumah sakit yang menerapkan strategi desain rumah sakit berwawasan lingkungan.

Di Indonesia sudah ada sertifikasi ISO 9001:2000 yang merupakan standar internasional untuk sistem manajemen kualitas. ISO 9001:2000 menjamin penilaian suatu sistem menajemen dan kualitas produk sesuai persyaratan yang ditetapkan. Sertifikasi tersebut diharapkan dapat memperbaiki pelayanan kesehatan dalam bentuk penyediaan sarana  dan prasarana, agar pasien mendapatkan perawatan dan pemulihan kondisi kesehatan yang terbaik.

*****
·         Solar cell = Solar panel adalah alat yang merubah sinar matahari menjadi listrik melalui proses aliran-aliran elektron negatif dan positif didalam cell modul tersebut karena perbedaan electron.
·         Photovoltaic = Photovoltaic cell adalah suatu transducer yang berfungsi untuk mengkonversi energi cahaya matahari menjadi energi listrik
·         AMDAL= AMDAL adalah kajian mengenai dampak besar dan penting untuk pengambilan keputusan suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan (Peraturan Pemerintah No. 27 tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan). - See more at: http://www.menlh.go.id/amdal/#sthash.SarCHc9T.dpuf

·         Urban Heat Island = kawasan yang memancarkan panas berlebih karena proporsi luas kawasan hijau tidak sebanding (lebih sedikit) dari area terbangun.



   *************************
Ditulis untuk Kompetisi Blog "Green Hospital", RSUD Daya Makassar.
Sumber gambar Hospital.htm
Dimuat juga di situs resmi RSUD DAYA.
Ratih Purnamasari | @Purnama_rara | ratih.weningdi@gmail.com



3 comments:

  1. iyo bagusmi kakaaaa ....

    suka pengaturan sepasinya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah semoga atas bantuan ki witjaksono terbalaskan melebihi rasa syukur kami saat ini karna bantuan aki sangat berarti bagi keluarga kami di saat kesusahan dengan menanggun 9 anak,kami berprofesi penjual ikan di pasar hutang saya menunpuk di mana-mana sempat terpikir untuk jadikan anak bekerja tki karna keadaan begitu mendesak tapi salah satu anak saya melihat adanya program pesugihan dana gaib tanpa tumbal kami lansung kuatkan niat,Awalnya suami saya meragukan program ini dan melarang untuk mencobanya tapi dari yg saya lihat program ini bergransi hukum,Saya pun tetap menjelaskan suami sampai dia ikut yakin dan alhamdulillah dalam proses 1 hari 1 malam kami bisa menbuktikan bantuan aki melalui dana gaib tanpa tumbal,Bagi saudara-saudaraku yg butuh pertolongan
      silahkan hubungi
      Ki Witjaksono di:O852-2223-1459
      selengkapnya buka blog
      klik-> PESUGIHAN TANPA TUMBAL

      Delete
  2. terima kasih fan, sudah ajar buat kalimat yg nd blibet, hehehe :)

    ReplyDelete

Apa pendapatmu?

Copyright © 2014-2015 Mimpi Kota