Wednesday, May 24, 2017

Freelancer dan Bisnis E-commerce di Era Millennial

Era digital, masa dimana seluruh gerak dan aktivitas sehari-hari kita harus ditunjang dengan kemudahan mengakses berbagai informasi secara mobile, dimanapun dan kapanpun. Tak terkecuali dunia kerja yang semakin menuntut efektivitas dan efisiensi waktu namun tetap menghasilkan pekerjaan yang berkualitas. Jarak tidak lagi dibatasi dengan sekat-sekat administrasi, dalam dunia maya kita hampir tak dibatasi apapun, selama koneksi dan jaringan telekomunikasi tidak bermasalah maka seluruh orang di berbagai belahan dunia ini dengan mudahnya saling berinteraksi.

Dalam dunia kerja, terutama setelah memasuki era millennial setiap orang dituntut cepat, maksimal dalam melakukan pekerjaannya. Jarak dinilai bukan lagi masalah terutama bagi kelompok kaum urban yang memilih bekerja sebagai freelance. Freelance sendiri adalah julukan bagi mereka yang bekerja di mana saja, tidak berkantor dan bekerja dengan patokan waktu yang umum dilakoni karyawan di kantor-kantor pemerintahan dan swasta. Pekerja freelance yang mengerjakan proyek dan menjalankan bisnis dari rumah ini dikenal dengan istilah cyberhome

Data yang dilansir dari freelancer.co.id mencatat bahwa tahun 2015 menjadi tahun paling bersejarah bagi freelancer.com karena berhasil mencapai jumlah anggota sebanyak 15 juta anggota, dan lebih dari 7,4 juta proyek yang dikirimkan dengan nilai proyek lebih dari US$2,2 milliar. Dari angka tersebut, 500 ribu berasal dari Indonesia dan memiliki pertumbuhan yang cukup pesat diantara empat negara lainnya. Hal ini didukung dengan besarnya jumlah kelompok berpendidikan di Indonesia yang memilih bekerja sebagai freelance, dengan berbagai alasan. Salah satunya adalah kemudahan mengatur waktu dan tidak mengikat.

Sebagai pekerja freelance, saya juga merasakan banyak manfaat ketika beralih menjadi freelance dibanding bekerja sebagai karyawan tetap dalam satu perusahaan. Kurang dari dua tahun saya sudah bekerja pada dua perusahaan berbeda, alasannya berbeda-beda ketika saya mulai jenuh dari perusahaan yang pertama lalu resign dan masuk ke perusahaan yang menjanjikan penghargaan dan jenjang karir yang lebih baik.

Ternyata sekalipun saya digaji dengan upah tiga kali UMR dengan berbagai insentif yang sangat manusiawi bagi karyawan wanita, saya tetap merasa ingin segera berhenti dan memulai sesuatu yang baru. Sebagai lulusan Teknik (Teknik Planologi) yang terbiasa berada di lapangan, dan kegiatan survei maka berada berjam-jam di kantor dengan intensitas pekerjaan yang cukup padat, dan keleluasaan menggunakan waktu yang terbatas saya akhirnya memilih resign untuk kedua kalinya.

Tawaran menggiurkan datang ketika Saya diminta membantu pekerjaan perencanaan di Bappeda salah satu kabupaten di Provinsi Papua Barat. Saya akhirnya berprofesi sebagai tenaga ahli Perencanaan Wilayah dan Kota dan mengerjakan dokumen perencanaan tata ruang untuk daerah-daerah di Indonesia Timur dan Indonesia bagian Barat. Hal ini sangat menyenangkan karena saya bisa mengerjakan dimana saja pekerjaan tersebut. Setelah melakukan survei di daerah dan kembali ke Jogja kemudian memulai menyusun dokumen perencanaan bersama seluruh tenaga ahli yang terlibat. Postifinya adalah sebagai freelancer Saya bebas melakukan jadwal kerja saya sendiri selain deadline tetap yang sudah diputuskan pihak pemberi pekerjaan.

Dari pekerjaan ini dalam setahun saya bisa mengerjakan proyek hingga Tujuh pekerjaan dengan profit yang jauh berkali-kali lipat dibandingkan ketika saya menjadi karyawan tetap. Sistem bekerja freelance ini sangat mengandalkan kekuatan koneksi internet, mengingat kuota internet untuk mengirimkan dokumen-dokumen setiap bulannya cukup besar, belum materi-materi dan peta satelit dari Google Earth yang harus senantiasa harus diakses dalam menunjang penyusunan dokumen perencanaan pembangunan wilayah di daerah studi.

Bekerja sebagai freelance dengan ruang kerja yang tersebar dimana saja, memudahkan saya melakukan kegemaran lain yang sempat terbengkalai ketika menjadi karyawan tetap. Kegemaran saya yang lain adalah menulis reportase warga kota di Kompasiana.com. Kegemaran ini berhasil membantu saya dalam menemukan konten tulisan yang cukup spesifik dan saya kuasai, yakni tata kota. Berkat keseriusan saya menulis di tahun 2012-2014 saya mulai melihat arah konten tulisan yang semakin mengerucut dan detil. Kini sejak kembali menjadi freelancer, saya mulai fokus menyusun sebuah buku dari hasil kumpulan tulisan-tulisan saya di blogdan kompasiana.

Perempuan dan Pilihan Bekerja Sebagai Freelancer

Data yang dihimpun oleh OECD (Organisation for Economic Co-Operation and Development) menunjukkan jika pertumbuhan jumlah pemilik bisnis start-up di Eropa Utara seperti Denmark cukup tinggi. Data ini masih berkembang dan akan berkembang di negara-negara Eropa lainnya seperti Denmark dan Jerman. Indonesia sendiri memiliki potensi yang cukup menjanjikan dalam bisnis startup yang digeluti oleh kaum wanita. Pengemudi Gojek Online kini juga mulai dilirik oleh kelompok wanita, atau yang memilih bekerja dalam bisnis on-line dengan alasan bisa mengontrol pekerjaan dari rumah dan keluarganya tetap diperhatikan.



Alasan lain mengapa perempuan di kota-kota besar memilih bekerja dari rumah adalah faktor keamanan. Menjadi karyawan wanita yang setiap hari harus berkutat dengan transportasi umum dengan segala masalahnya justru sering menimbulkan masalah serius bagi perempuan. Pelecehan baik yang terjadi di dalam angkutan umum maupun di jalan menuju tempat kerja sangat mengkhawatirkan sehingga cukup menimbulkan dampak traumatik bagi mereka yang menggunakan transportasi umum sebagai moda utama dalam menunjang aktivitas mereka.

Kini setelah pertumbuhan internet dan pembangunan jaringan/infrastruktur telekomunikasi dibangun pemerintah, secara massive pertumbuhan bisnis on-line ikut kena imbas tren positif. Bisnis on-line ini memang paling dilirik oleh ibu rumah tangga, atau mantan karyawan yang memang memiliki sensitivitas bisnis yang cukup bagus. Hasilnya cukup memuaskan karena jumlah entrepreneur perempuan yang bergabug dalam bisnis belanja on-line juga cukup tinggi.


Ere Millennial, Saatnya Menjalankan Bisnis dan Bekerja Dari Rumah

Melihat tren perkembangan bisnis on-line dan pekerja freelance di Indonesia, maka yang perlu disiapkan oleh pemerintah adalah sistem pengawasan bisnsis terutama yang melibatkan transaksi keuangan on-line. Dukungan infrastruktur teknologi juga sangat dibutuhkan oleh pemerintah agar dominasi pekerja freelance dan bisnis on-line tidak hanya dinikmati oleh kaum urban saja, melainkan bisa menjangkau kelompok wirausahawan yang ada di daerah-daerah terpencil.

Seperti yang sering kita temukan ketika mengunjungi lokasi wisata di daerah-daerah terpencil, rata-rata penduduk setempat memiliki kreativitas lokal dalam bentuk kerajinan tangan/handmade yang bernilai jual cukup tinggi. Daripada mengandalkan sepenuhnya pada kunjungan wisatawan yang tidak menentu, para pemilik usaha kerajinan tradisional ini bisa memanfaatkan teknologi untuk memasarkan produk mereka secara global.

Selain infrastruktur teknologi, pemerintah provinsi perlu menggenjot pembangunan infrastruktur fisik di daerahnya agar bisa mendukung kegiatan operasional dari bisnis on-line ini seperti kemudahan pengiriman barang. Biaya pengiriman barang akan terjangkau jika infrastruktur jalan, transportasi darat dan laut melayani arus pergerakan barang di daerah-daerah terpencil.

Karena sebuah kreativitas hanya bisa lahir dari peradaban, dan peradaban yang dibangun tidak lepas dari komitmen pemerintah dalam membangun daerahnya. Peluang besar menjadi bangsa dengan pertumbuhan bisnis e-commerce yang cukup menjanjikan, dan peran perempuan dalam menunjang pertumbuhan bisnis tersebut harus diperhatikan oleh pemerintah. Kendala-kendala di lapangan harus segera diselesaikan sehingga ekonomi kreatif di Indonesia mampu menguatkan perekonomian Indonesia secara global.

***


Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog Indonesia Guncang Dunia 2017







Thursday, April 27, 2017

Kopi Merapi dan Strategi Menggerakkan Petani

Perjalanan kami ke Dusun Merapi dua minggu lalu untuk menemui Sumijo, seorang petani kopi di lereng Merapi akhirnya memberi informasi baru tentang keberadaan Koperasi Kopi Merapi Turgo. Sumijo sebelumnya (16/05/2015) banyak bercerita tentang pengembangan perkebunan kopi Merapi hingga menjadi sebuah usaha koperasi. 

Sumijo (Ketua Koperasi Kopi Merapi Turgo) menuturkan kala itu bahwa usaha Kopi Merapi saat ini mulai berkembang, ditandai dengan pemesanan kopi dari hotel di Jogja, hingga Chef Ragil di Jakarta. Salah satu hotel yang menjadi langganan pemesan kopi Merapi bisa memesan kopi hingga 80 bungkus (per bungkus/250 g) sedangkan pesanan kopi dari Chef Ragil sendiri mencapai 200 kilo (jenis green bean). 



Tingginya permintaan kopi Merapi baik dalam bentuk bubuk dan green bean diakui Ibu Dewi (32 tahun) yang juga pengurus koperasi. Hingga saat ini pemesanan kopi dalam bentuk green bean sudah mencapai 400 kilogram namun koperasi hanya mampu memenuhi pesanan sebanyak 200 kilo/tahun.

Usaha Koperasi Kopi Merapi Keberadaan Koperasi Kopi Merapi dimanfaatkan dengan baik oleh Sumidjo dengan mengembangkan usaha warung kopi tradisional di Dusun Petung. Kegiatan wirausaha Sumidjo, rupanya lebih dikenal lebih dulu ketimbang Koperasi Kopi Merapi. Memahami keahlian dan pemahamannya tentang kopi, petani kemudian memilih Sumidjo sebagai Ketua Koperasi Kopi Merapi sejak tahun 2007 hingga sekarang.


Peran Sumidjo dalam pengembangan usaha Koperasi Kopi Merapi sangat signifikan terlihat dari berbagai penghargaan nasional yang berhasil diraih unit usaha bersama “Kebun Makmur” melalui Koperasi Kopi Merapi. Jaminan mutu dan kualitas Kopi Merapi akhirnya mendapatkan penghargaan tertinggi yakni SNI Award pada tahun 2007, bersaing dengan beberapa unit usaha skala nasional. 

Penghargaan lain selain SNI Award yang diraih Kopi Merapi, juga datang dari Kementerian Pertanian dengan kategori Ketahanan Pangan dan Lingkungan. Selain penghargaan dalam negeri, testimoni seorang Maya Sutoro (aktivis kemanusiaan yang juga adik Presiden Barack Obama) dan pakar kopi asal Belanda Sipke de Schiffart tentang Kopi Merapi merupakan penilaian penting bagi jaminan kualitas dan mutu Kopi Merapi.



Dewi menuturkan, pengelola koperasi berusaha memberikan yang terbaik bagi pelanggan dan konsumen Kopi Merapi. Misalnya, untuk memenuhi pasokan bahan baku Kopi Merapi, koperasi juga menerima kopi dari beberapa daerah namun jumlahnya tidak banyak atau melampaui bahan baku Kopi Merapi.


“Koperasi tidak ingin menjual merek Kopi Merapi saja padahal kualitas kopinya bukan dari biji Kopi Merapi, cara seperti itu dianggap menipu konsumen.” Ujarnya. Yang mengejutkan lagi, selain untuk konsumsi, ternyata Koperasi Kopi Merapi juga melayani pemesanan dari salon kecantikan yang memanfaatkan kopi untuk perawatan tubuh! 

Kualitas kopi yang dijual untuk kebutuhan perawatan tubuh memang bukan kualitas nomor satu, karena pihak koperasi tidak mau menjual kopi jenis konsumsi dengan harga yang sama untuk kebutuhan perawatan tubuh. “Eman-eman, Mbak, sayang, kalau kopi bagus Cuma dipakai buat lulur!,” kata Dewi. Saat ini, koperasi berencana mengembangkan bidang usaha kopi ke usaha pembuatan permen kopi. Sumidjo menganggap bahwa usaha kopi kedepannya tidak lagi menghasilkan satu jenis olahan saja, tapi bisa menghasilkan variasi pangan. Sumodjo sang ketua koperasi sebetulnya punya kegelisahan. 

Cita-cita besarnya menjadikan kopi sebagai minuman khas dari Indonesia agar orang Indonesia dapat menikmati kopi terbaik di negerinya sendiri. Sayangnya, pengetahuan petani kopi di lereng Merapi masih minim. Semangat mereka sepertinya belum sejalan dengan cita-cita Sumidjo. 


Harapan Sudmijo, dengan pengembangan desa wisata, Kopi Merapi akan menggerakkan semangat para petani agar kembali menggarap kebun kopinya dengan serius, tidak mudah tergoda dengan alih bisnis ke tambang pasir. Setidaknya dengan menjadi daerah tujuan wisata, akan semakin banyak kunjungan orang dari berbagai daerah untuk menikmati Kopi Merapi.

***

Sulsel Baru: Peluang Mengembangkan Think Tank Terbesar di Indonesia Timur

Sumber:i.ytimg.com

Selain kekayaan rempah-rempah seperti Pala, Cengekeh, Kakao dan Merica, Sulawesi Selatan juga menguasai sektor perikanan karena kekayaan hasil lautnya yang melimpah. Sektor pertanian Sulawesi Selatan adalah salah satu lumbung pangan terbesar di Indonesia. Unggul di ketahanan pangan, Sulawesi Selatan juga memiliki kekayaan alam karst yang terindah di dunia setelah Tiongkok. UNESCO menetapkan karst di wilayah Kabupaten Maros hingga Pangkep adalah warisan budaya dunia (World Heritage). Usia karst yang terbentuk di wilayah Maros-Pangkep diprediksi sekitar 40 juta tahun dengan sebaran formasi yang membentuk Paparan Carbonat Tonasa.

Beranjak ke arah utara Provinsi Sulawesi Selatan, terdapat kekayaan budaya yang juga cukup terkenal di mancanegara karena pesona religi dan adat istiadatnya. Dari kekayaan adat religi hingga kopi yang mendunia, tidak mengherankan Kabupaten Tanah Toraja menjadi destinasi wisata favorit di Sulawesi Selatan.

Pesona religi di Kabupaten Tana Toraja semakin diperkuat dengan dibangunnya patung Yesus tertinggi di dunia di Bukit Buntu Burake, Kecamatan Makale. Dengan kemudahan akses darat menuju Tana Toraja jumlah kunjungan wisatawan domestik dan asing ke daerah ini juga terus bertambah. Data kunjungan wisatawan asing ke Tanah Toraja dalam kurun waktu 2009-2015 berjumlah 83.634 wisatawan. Salah satu optimalisasi potensi wisata di Tanah Toraja adalah aksesibilitas. Saat ini kendaraan umum berupa bus-bus antar daerah dengan fasilitas premium juga menyediakan banyak pilihan bagi wisatawan.

Potensi pertumbuhan Sulawesi Selatan bagian Selatan
Dahulu potensi sumberdaya alam, kebudayaan dan pariwisata di bagian Utara Sulawesi Selatan (Maros-Tanah Toraja, Tanah Toraja-Luwu Timur) jauh lebih berkembang bila dibandingkan dengan kabupaten-kabupaten di bagian Selatan seperti Kabupaten Jeneponto, Bantaeng, dan Selayar. Namun dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir ini, pemerintah daerah di kabupaten bagian Selatan Sulsel berhasil melakukan reformasi birokrasi dan tata kelola pemerintahan yang cukup siginifikan.

Hasil paling singnifikan terjadi di Kabupaten Bantaeng. Kini berkat kepemimpinan yang cenderung inovatif, kepala daerah di daerah ini berhasil membawa Bantaeng mencapai berbagai penghargaan tingkat provinsi dan nasional. Dua tahun berturut-turut (2008-2009) Bantaeng berhasil meraih adipura untuk kategori kota kecil, dan untuk pertama kalinya. Sektor ekonomi juga mulai berkembang, pabrik-pabrik pengolahan hasil laut dan hasil perkebunan telah dibangun, dengan mitra kerjasama dari luar negeri seperti Jepang dan Korea Selatan.

Selain kemudahan berinvestasi, aspek pelayanan publik seperti kesehatan juga tidak luput dari perhatiannya. Pemerintah Kabupaten Bantaeng membangun sebuah rumah sakit berstandar yang tidak hanya melayani masyarakat dilingkup Bantaeng saja, tetapi juga menjadi Rumah Sakit rujukan bagi kabupaten di sekitarnya (Sinjai-Selayar-Bulukumba, dan Jeneponto). Fasilitas mobil patroli kesehatan beroperasi duapuluh empat jam, untuk menjangkau penduduk yang tinggal di desa-desa terpencil. Inovasi-inovasi ini tidak pernah terjadi di tahun-tahun sebelumnya.

Pencapaian yang diraih Kabupaten Bantaeng di beberapa bidang seperti infrastruktur, sarana umum, inovasi tata kelola pemerintahan, penataan kota, pariwisata dan ekonomi ternyata berpengaruh positif bagi daerah sekitarnya. Kabupaten Jeneponto misalnya, daerah yang terkenal dengan jalan rusak ternyata kini mulai bersaing dengan kabupaten sekitarnya. Dimulai dengan peningkatan kualitas jalan provinsi, tranparansi anggaran, dan penataan fasilitas pelayanan publik pelan-pelan membuat Kabupaten Jeneponto mulai berbenah meningkatkan kualitas taraf hidup masyarakatnya.

Begitu juga dengan Kabupaten Bulukumba dan Selayar dengan mulai menggiatkan kembali sektor pariwisata baik melalui website resmi pemerintah setempat maupun dari media sosial Instagram. Upaya ini cukup berhasil mengangkat nama pantai-pantai baru. Begitu juga dibidang budaya, kini mulai dicari dan memiliki pasar wisatawan sendiri yakni keunikan cara hidup masyarakat Suku Kajang di Kabupaten Bulukumba atau keindahan Takabonerate yang dahulu sempat stagnan karena minimnya promo-promo wisata.

Dengan tumbuhnya iklim berinvestasi yang cukup baik di kabupaten-kabupaten bagian Selatan, pengelolaan pariwisata dan infrastruktur jalan yang sudah semakin baik tentu membawa angin segar bagi pemerataan pembangunan di Sulawesi Selatan. Kemajuan pembangunan yang merata pada seluruh kabupaten di Sulawesi Selatan memberi citra positif bagi Sulawesi Selatan di mata investor.

Kemudahan berinvestasi sangat diperlukan di Sulawesi Selatan, mengingat hampir seluruh kabupaten memiliki keunggulannya masing-masing. Dari segi keamanan dan stabilitas pemerintahan, Sulawesi Selatan selama bertahun-tahun juga berhasil menjaga kerukunan umat beragama. Stabilitas keamanan dan pemerintahan ini cukup penting di mata investor asing, sebagai modal utama menanamkan kepercayaan, tidak hanya modal usaha saja.

Dengan potensi alam, budaya dan keberagaman etnis yang sangat berlimpah, maka kemajuan Sulawesi Selatan tinggal diperkuat di bidang infrastruktur lintas kabupaten dan penguatan sumberdaya manusia. Optimisme pemerintah mulai terealisasi, pembangunan infrastruktur mulai digalakkan. Target pemerintah Sulsel kini mulai berjalan dengan direncanakannya pembangunan jalur kereta api tahap I dari Kota Makassar-Tana Toraja.

Rencana pembangunan jalur kereta api tersebut juga telah tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Sulawesi Selatan Tahun ().
Lalu, dengan potensi yang cukup banyak tersebut seperti apa langkah-langkah yang harus dilakukan seluruh stakeholder (pemangku kepentingan) di Sulawesi Selatan untuk memaksimalkannya?

Sulawesi Baru, Masa Kini dan Peluang di Masa Depan

1.     Mengambil Peluang dari Arah Bisnis Global 2020
Saat ini, Indonesia yang tergabung dalam ASEAN (Association of Southeast Asian Nations) tengah menggiatkan peningkatan potensi ekonomi berbasis inovasi ekonomi digital. Kementerian Komunikasi dan Informasi tengah mendorong para inovator muda Indonesia untuk mewujudkan target pemerintah, menciptakan 1.000 inovator di bisnis rintisan/startup. Bisnis tekno ini memanfaatkan ketersediaan sumberdaya alam dan keunikan budaya di Sulawesi Selatan. Misal aplikasi layanan fasilitas wisata, dan aplikasi jasa transportasi perjalanan, dan masih banyak lagi yang bisa dikembangkan.

Peluang menciptakan 1.000 inovator/teknopreneur dapat dimanfaatkan dengan baik oleh pemuda-pemudi Sulsel, tentu dengan penguatan di penyediaan sarana dan prasarana baik secara fisik maupun regulasi oleh pemerintah Sulawesi Selatan. Berkaca dari India yang sukses dengan lembah silicon / Silicon Valley, pusat pengembangan inovasi teknologi dan digital yang sukses meningkatkan investasi asing.

Mungkin ke depan, Sulsel juga akan memiliki Silicon Valley seperti India yang berpusat di Samata, Gowa. Mengingat, di Samata tengah berdiri dua universitas negeri terbesar di Indonesia Timur, Universitas Hasanuddin dan Universitas Islam Negeri. Secara kualitas, pelajar dan alumni terdidik Sulsel dapat bersaing dengan pelajar di Jawa, hanya saja karena minimnya sarana edukasi dan lemahnya tradisi belajar yang membuat sebagian generasi muda Sulsel terjebak di zona nyaman, menjadi konsumtif, dan minim kreativitas.

Tradisi berkompetisi ini bisa dibangun dari sekarang, memperbanyak fasilitas publik, ruang-ruang kreatif, dan yang fenomenal di luar negeri adalah ruang inkubator. Ruang inkubator ini ibarat sebuah gedung yang terdiri dari banyak ruangan, kemudian dengan sistem sewa yang relatif murah, maka komunitas muda dapat menggunakannya untuk mewujudkan ide-ide brilian mereka. Ruang inkubator ini dimanfaatkan oleh seluruh komunitas, baik seni, sains, teknik, sastra, perfilman dan komunitas lainnya.

Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo juga telah membuka kesempatan yang cukup besar bagi inovator dan pengusaha Indonesia untuk berlaga di kerjasama pemerintah Indonesia dengan Negara-negara di Asia Pasifik yang dikenal dengan istilah TPP. TPP adalah Trans Pacific Partnership, kemitraan Trans Pasifik sebuah blok perdagangan bebas yang beranggotakan 12 negara. Negara yang bergabung dalam TPP ini adalah Amerika Serikat, Kanada, Australia, Jepang, Selandia Baru, Meksiko, Cile, Peru dan empat Negara Asia Tenggara.

Selain menguntungkan dari sisi penghapusan tariff perdagangan di 12 negara yang mencapai 40%, TPP sendiri memiliki manfaat bagi pengusaha Indonesia untuk meningkatka kualitas produk dan inovasinya. Beberapa kesepakatan internasional lainnya yang diikuti Indonesia adalah AFTA, dimana persaingan tenaga muda professional lintas Negara semakin terbuka. Lalu, apakah Sulawesi Selatan sudah siap menyambut peluang ini? Atau orang muda Sulsel hanya jadi penonton melihat sumberdaya manusia dari luar Sulsel yang bisa menikmati nilai positifnya, sementara Sulsel hanya jadi penonton.

Saat ini penting bagi pemerintah Sulsel, jika serius menggarap cita-cita besar mewujudkan Sulsel baru adalah dengan mendata mahasiswa (i) asal Sulawesi Selatan yang sementara menempuh pendidikan maupun yang telah selesai pendidikannya di luar Sulsel. Ada banyak anak-anak muda Sulawesi Selatan yang sekolah di Jawa dan di luar negeri.

Jika dikumpulkan, dan pemerintah daerah serius membangun daerah melalui ide dan kreativitas mereka, Sulsel akan memiliki pusat lembaga Think Tank terbesar di Indonesia Timur. Hal ini menjadi sebuah terobosan baru, gairah berkompetisi di generasi berikutnya akan tumbuh, dan tradisi sebagai gudangnya remaja terpelajar akan terbangun.
Tadinya mungkin saja ada pelajar/mahasiswa yang pulang untuk membangun daerah, namun karena kuatnya budaya nepotisme di daerah akhirnya mereka terjungkal juga. Mereka akhirnya memilih berkarir di luar Sulsel. Keburukan ini yang harus ditinggalkan dan mulai memetakan potensi sumberdaya manusia dan diaspora asal Sulawesi Selatan.


 2.     Memaksimalkan Kekuatan Komunitas Muda Sulsel di Bidang Teknologi

Belum genap lima tahun sejak industri teknologi digital berkembang, pencapaian anak-anak muda di Indonesia kini begitu tinggi berkat penguasaan bisnis berbasis teknologi. Bisnis-bisnis startup mulai didirikan, industri perfilman animasi dan kesenian kontemporer juga semakin berkembang. Komunitas muda Sulsel telah membuktikan kreativitas mereka di bidang perperfilman yang mampu sejajar dengan sineas muda nasional. Film Silariang dan Uang Panai menandai sebuah pencapaian kreativitas sineas Sulsel dengan mengangkat tradisi dan budaya di Sulawesi Selatan.

Kini komunitas muda di berbagai daerah mulai berinovasi dan menciptakan temuan-temuan di bidang seni, lingkungan, dan teknologi yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Bisnis yang dijalankan oleh orang-orang muda atau peluang bisnis yang sasarannya juga orang muda, diprediksi menjadi sebuah model bisnis baru di masa depan.

Dari fenomena ini kita bisa melihat fakta jika membangun daerah ke depan,  tidak lagi berkiblat pada kegiatan perdagangan konvensional melainkan mulai bergeser ke industri teknologi yang membutuhkan kreativitas orang-orang muda. Kota-kota di Sulawesi Selatan bisa belajar dari cara Jakarta dan Bandung memberdayakan orang-orang mudanya. Alih-alih membiayai proyek monumental dengan biaya trilyunan, mengapa tidak membangun ruang-ruang kreativitas bagi masyarakat seperti yang ada di Jakarta atau Bandung.

Gedung atau ruang kreativitas yang disediakan oleh pemerintah daerah dapat digunakan oleh kelompok masyarakat, dan berbagai komunitas untuk mengembangkan kreativitas dan rancangan inovasi produk mereka. Ibaratnya, penguatan sumberdaya manusia tidak melulu harus bernaung di sekolah-sekolah formal, balai latihan kerja, dan lembaga-lembaga kursus.

Penguatan sumberdaya manusia justru dikembangkan oleh kelompok kerja dan komunitas itu sendiri, sedangkan peran pemerintah ada di penyediaan sarana prasarana. Ruang kreativitas yang didirikan pemerintah akan membangun kemandirian warga dan penguatan komunitas. Upaya seperti ini sangat kental dengan prinsip keberlanjutan, artinya limpahan sumberdaya manusia yang handal tentu akan menjadi investasi jangka panjang bagi pembangunan daerah di Sulawesi Selatan.

Karena orang-orang muda di Sulawesi Selatan kelak menjadi pelaku bisnis di masa depan, maka pemerintah daerah perlu mendorong minat anak-anak muda untuk berkecimpung di bidang teknologi. Pemerintah daerah bisa memulai dengan menyiapkan program beasiswa ke luar negeri untuk belajar teknik, belajar seni, program kerjasama magang dengan perusahaan di luar negeri dan pelatihan bahasa asing di seluruh jenjang pendidikan.

Ketika sarjana-sarjana terampil ini kembali ke daerah masing-masing, mereka diwadahi berupa ruang pengembangan inovasi bisnis pengelolaan sumberdaya alam. Misalnya pengelolaan bisnis perikanan, pertanian, perkebunan yang akan membantu memecah kebutuntuan pemerintah daerah dalam pengelolaan potensi sumberdaya daerah. Selain memaksimalkan pengelolaan sumberdaya alam, target lain yang harus dikejar ada di bidang seni dan kebudayaan.

Seni dan kebudayaan di Sulawesi Selatan sebenarnya cukup beragam dan jika dikemas dengan baik, maka dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan. Sayangnya kesenian Sulawesi Selatan masih dilihat sebagai sebuah pertunjukan beragam pentas kesenian daerah, belum menjadi citra ikonik sebuah daerah. Jika dikelola dengan inovasi, pemerintah daerah bisa menyusun kembali festival-festival rakyat dan kesenian dalam bentuk even bulanan dan tahunan. Langkah seperti ini juga termasuk upaya mengenalkan, melestarikan kesenian dan kebudayaan kepada generasi baru.

Gerakan Sulawesi Selatan baru, dapat dicapai melalui pembangunan sumberdaya manusia. Menguatkan komunitas muda dengan beragam keahlian, berbasis penguasaan teknologi namun tetap mengakar rumput karena seni dan budaya ikut dilestarikan. Pemerintah Sulsel bisa melihat bagaimana Yogyakarta unggul dalam kualitas sumberdaya manusia namun nilai-nilai tradisi tetap terjaga hingga saat ini, bahkan kebudayaan mereka menjadi daya tarik bagi wisatawan.

Keberadaan Universitas Hasanuddin sebagai universitas terbesar di Indonesia Timur seharusnya mampu sejajar dengan kota-kota maju di Pulau Jawa. Keseriusan pemerintah daerah dan provinsi untuk memajukan pendidikan dengan program anti mainstream kelak dapat menekan laju urbanisasi anak-anak muda Sulawesi Selatan ke Pulau Jawa.
Kelak, pusat pendidikan, perdagangan kedepan tidak lagi menjadi Jawa sentris melainkan menjadi Indonesia sentris karena kendali pembangunan sudah tersebar di Timur, Tengah, dan Barat Indonesia. Pada tahap ini, Sulawesi Selatan akan menjadi corong/kiblat pembangunan dengan kerjasama antar provinsi di Indonesia Timur.



***

Strategi Big Data: Masa Depan Solusi Lalu Lintas dan Transportasi di Kota-kota Indonesia.

Hampir semua kota besar di Indonesia terus berupaya mengurai kemacetan, baik dengan jalan layang non-tol, jalur-jalur khusus (misal busway), tol lingkar luar, bus transit, sampai skema arus berlawanan (contraflow) yang sifatnya sangat situasional. Di sisi makronya, kini pemerintah di banyak kota juga tengah berlomba mewujudkan bentuk “kota cerdas”, yang pilotnya sudah diterapkan lebih dulu oleh Surabaya melalui Smart Budgeting.

Ide ini sukses mengantar Kota Pahlawan menerima penghargaan sebagai kota cerdas di Indonesia pada tahun 2011. Tidak lama setelah itu, lingkup kota cerdas tidak lagi menyasar soal aplikasi transparansi anggaran (e-budgeting) dan pelayanan publik melalui e-government, melainkan semakin luas termasuk ke sektor transportasi.

Demi mengetahui lebih jelas titik-titik masalah kemacetan kota, polisi dan Dinas Perhubungan mengintegrasikan infrastruktur transportasi dengan teknologi databit lewat pemantauan kamera CCTV di jalan-jalan utama. Tayangan informasi langsungnya lewat televisi dan radio membantu pengendara memilih rute alternatif jika tadinya hendak melewati jalan-jalan pusat macet yang disiarkan tersebut.

Pemerintah kota cukup berhasil memetakan titik-titik kemacetan melalui tayangan terkini (real time) yang diteruskan ke pusat-pusat koordinasi. Hanya saja, informasi kemacetan yang sangat membantu ini hanya disiarkan di stasiun televisi dan radio pada jam-jam tertentu sehingga belum dapat dinilai sebagai solusi mengurai atau menghindari kemacetan lalu lintas sepanjang hari. Alternatifnya, pengemudi dan pengguna jasa transportasi umum di kota-kota kini mengandalkan global positioning system (GPS), yang tersemat di ponselnya, guna memantau kemacetan lalu lintas beberapa menit sebelum melewati sebuah jalan.

Tahun 2020 mendatang, lebih dari 70% seluruh telepon pintar akan dilengkapi dengan GPS dengan kenaikan signifikan sebesar 20% setiap tahunnya (http://iveybusinessjournal.com). Dengan perkembangan teknologi, kini semua telepon pintar telah dilengkapi GPS (Global Positioning System) dengan informasi cukup rinci soal jaringan jalan khususnya di kota-kota metropolitan. Setiap tahun inovasi mesin pencari rute alternatif maupun alamat melalui Maps terus berkembang.

Kini kita tidak hanya dimudahkan dalam mencari alamat saja atau rute tertentu yang ingin dituju, aplikasi pemetaan dan panduan jalan juga telah melengkapi perangkatnya dengan informasi tingkat kepadatan lalu lintas di jalan-jalan utama. Titik macet parah suatu ruas jalan yang terekam dalam Google Maps ditandai dengan warna merah, kepadatan sedang berwarna kuning dan ramai lancar ditandai dengan warna biru.

Data terkini yang sifatnya masif ini akan sangat membantu pemerintah kota dalam menganalisis kinerja satu ruas jalan yang berkaitan dengan intensitas waktu yang dihabiskan pengendara kendaraan serta bahan bakar yang terbuang dalam satuan waktu/ruas jalan. Dengan cara ini, kinerja ruas jalan akan semakin bergerak dinamis dengan memanfaatkan data pergerakan dan pembaruan status-status publik di Internet.

Konsep ini, dinamakan Smart Routing, membantu penghematan waktu hingga 15 menit hingga 30 menit per hari, 10.800 jam per tahun, artinya 1 pengendara bisa menghemat bahan bakar sebanyak 5.400 liter setiap tahunnya. Dampak positif lainnya, semakin berkurang kendaraan terjebak kemacetan, maka semakin berurang polusi yang dihasilkan kendaraan dalam sekali waktu perjalanan.

Ekosistem data real time ini membangun apa yang disebut dengan Big Data, mekanisme pembaruan informasi yang berkaitan dengan kejadian-kejadian nyata di lingkungan publik, diintergrasikan dengan data fundamental sebuah struktur yang dimiliki oleh otoritas. Alat bantu ini merupakan kepingan penting yang dapat diterapkan pemerintah-pemerintah di Indonesia jika ingin mewujudkan efisiensi lalu lintas, selagi teknologi mulai merambat masuk dengan layanan-layanan berbasis open source dan crowdsource, memanfaatkan arus informasi orang-orang yang setiap menitnya lalu-lalang di internet.


Di bidang transportasi khususnya, Big Data yang dimaksud dalam menunjang kinerja ruas jalan raya di sektor infrastruktur, di mana data seluruh ruas jalan, kelas jalan, informasi kepadatan lalu lintas, informasi rute busway dan bus-bus pariwisata dapat dirangkum, dipetakan menurut wilayah, dan diperbaharui secara terkini melalui informasi yang dibagikan publik pengguna. Berikut ini ilustrasi pengelolaan Big Data untuk sistem transportasi:


Analisis Big Data
Keberhasilan mengurai kemacetan di kota-kota maju lainnya kini melalui Big Data kini tengah diteliti. Di Irlandia, firma teknologi IBM telah menggunakan basis Big Data di Kota Dublin untuk mengidentifikasi akar masalah kemacetan di rute-rute jalur busway mereka.

Menggunakan berbagai informasi transportasi seperti; waktu perjalanan atau jam puncak, timetables, jalur-jalur bus padat penumpang dan yang lengang penumpang, alat detektor kemacetan (Inductive-Loop Traffict Detector), data perubahan cuaca (lokasi yang diprediksi akan turun hujan), kamera CCTV, dinamika GPS seluruh bus kota, pergerakan taksi, dan peta digital Kota Dublin.

Pusat informasi dapat menyusun solusi jangka pendek dan panjang untuk kemacetan, menentukan titik-titik rawan baru, dan meneruskan informasi kecelakaan ke pihak ketiga. Data ini lalu di-overlay dengan data real time arus kendaraan menggunakan analisis geospasial dengan sistem komputerisasi, sehingga titik penyebab masalah lalulintas ditemukan segera dan respon terhadap masalah lalu lintas bisa dilakukan lebih awal. Sayangnya, di Indonesia sendiri data statistik kita belum terintegerasi dengan data-data real time lalu lintas dari Dinas Perhubungan.

Big data yang kemudian dianalisis dengan metode overlay ini nyatanya memberi dampak positif dalam hal kekayaan informasi lalu lintas di lapangan. Dengan keterbatasan tenaga kepolisian dan Dishub yang memantau setiap persimpangan jalan, Big Data hadir sebagai mata elang di langit yang meneruskan informasi dalam waktu seketika, apa yang sebenarnya terjadi dengan pergerakan di atas aspal.

Jika berhasil terintegrasikan, sistem ini akan membantu sinkronisasi data statistika digital di monitor, dengan laporan-laporan langsung para petugas lalu lintas di lapangan. Tujuan utamanya: angka kecelakaan berlalu lintas menurun, kemacetan teratasi dan yang paling penting, kenyamanan berkendara berhasil dibangun pemerintah kota setempat. Ke depan, strategi Big Data ini bisa dikembangkan ke sektor-sektor yang lain seperti sektor pendidikan dan kesehatan, untuk melengkapi kebutuhan data rigid yang belum banyak ditemukan pada katalog BPS Indonesia dalam Angka.




Infrastruktur untuk Transportasi Cerdas dengan Basis Big Data

Infrastruktur cerdas sebagaimana yang dirintis Dublin dan Surabaya dibutuhkan untuk mengurangi dampak lingkungan, meningkatkan nilai ekonomi dan kualitas hidup perkotaan. Transportasi cerdas memberi kontribusi positif bagi kinerja mobilitas, aksesibilitas dan pemerataan pembangunan di seluruh area perkotaan.

Tantangannya, ini akan membutuhkan teknologi jaringan telekomunikasi yang lebih baru, walaupun biayanya tidak sedikit. Walaupun tidak semua dari sistem transportasi cerdas ini menggantungkan seluruh instrumennya pada teknologi. Kabar baiknya adalah, ide pengelolaan Big Data ini akan semakin meningkatkan pendapatan nasional karena tingginya permintaan di bidang jasa pelayanan transportasi yang mengandalkan pada kekuatan jaringan telekomunikasi.

Tahun 2017 saja, belum genap setahun Kementerian Komunikasi dan Informasi berhasil mengumpulkan pendapatan Negara Bukan Pajak yang tertinggi di seluruh jajarang kementerian. Kominfo menargetkan Pendapatan Negara Bukan Pajak di tahun 2017 ini akan mencapai Rp.14 Trillyun.

Agar target pemerintah nasional segera terwujud, maka diperlukan pengelolaan sebuah sistem Big Data. Sumber data yang sudah tersedia dan kerjasama antar lembaga terkait sebenarnya memiliki peran penting selain basis teknologi itu sendiri. Tinggal bagaimana melakukan update untuk data-data pergerakan lalu lintas melalui teknologi. Data yang terus diperbaharui ini juga sangat diperlukan sebagai basis data utama.

Bentuk kebutuhan data dan skema operasional yang bisa diwujudkan untuk pengembangan infrastruktur transportasi cerdas adalah sebagai berikut:

Sumber: Urban Mobility Guideline


Untuk mewujudkan visi ini, tidak hanya kesiapan perangkat teknologi dan data-data transportasi yang dibutuhkan dalam pembangunan infrastruktur transportasi cerdas. Sejak awal seluruh pemangku kebijakan di bidang transportasi harus fokus melihat masalah utama transportasi di kotanya dan tujuan yang hendak mereka capai dari transportasi cerdas.

Jika tujuan dari transportasi cerdas adalah mewujudkan kota yang lebih menyenangkan peningkatan investasi dan peluang ekonomi maka program smart routing saja tidak cukup. Di sisi lain, terobosan ini memerlukan kesadaran inovasi masyarakat, menyadari bahwa kegiatan di jalan serta aliran informasi yang mereka teruskan dapat berguna bagi otoritas kota dalam melakukan pemetaan masalah. Di samping itu, dibutuhkan pusat komando lalu lintas tersebar di setiap kota, dan dikelola secara independen tidak hanya oleh kepolisian, tetapi juga badan-badan afiliasi khusus yang berstandar.

Ke depannya, Big Data bisa dimanfaatkan untuk kepentingan yang lebih besar. Walaupun di satu sisi ternyata pemerintah memangkas anggaran infrastruktur sebesar Rp.300 Triliun dari 5.000 Trilliun. Diharapkan pemangkasan tersebut tidak berdampak siginifikan jika pemerintah benar-benar serius mengelola Big Data transportasi mereka.

Data transportasi ini ke depannya dapat digunakan dalam pendekatan analisis atas penawaran dan permintaan jasa transportasi, menjamin privasi pengguna jalan dan aplikasi data, memetakan proyeksi pembangunan jalur-jalur transportasi baru, serta menyiasati skema pembiayaan pemerintah daerah dalam menerapkan teknologi berkaitan dengan inovasi lalu lintas. 


Monday, April 17, 2017

Sarjio, Berdaya di Tanah Transmigran



Sudah lama saya menantikan perjalanan ini, mengunjungi Pulau Kalimantan yang juga dikenal dengan Borneo Island. Yang berbeda dari perjalanan kali ini adalah daerah yang akan saya kunjungi sedang terpapar asap pembakaran hutan dan lahan gambut. Seminggu sebelum perjalanan dimulai, saya dan tim yang beranggotakan 4 orang mulai mempersiapkan perlengkapan survei dan P3K untuk antisipasi kabut asap selama turun lapangan. 

Tidak banyak yang saya ketahui tentang Kalimantan, khususnya Kalimantan Tengah selain hutan dan kabut asap. Bahkan masalah kabut asap ini sebenarnya sudah lama saya dengar, jauh ketika saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Perjalanan kali ini sudah memiliki agenda khusus. Akan banyak pertemuan dengan masyarakat lokal, baik yang tinggal di dalam kota sebagai bagian dari peninggalan transmigrasi, hingga masyarakat yang berdiam di sekitar hutan adat Gunung Purei. Rute perjalanan akhirnya diputuskan akan mendarat di Bandara Syamsuddin Noor, Banjarmasin  pada 11 Oktober, lalu dilanjutkan perjalanan selama 10-12 jam ke kota Muara Teweh, yang terletak di Kabupaten Barito Utara (Propinsi Kalimantan Tengah). 

Kondisi permukaan jalan ternyata sudah jauh lebih baik jika dibandingkan dengan jalan propinsi di Jawa Tengah. Namun karena minim informasi seperti papan penunjuk arah, maka perjalanan ke Kota Muara Teweh rupanya cukup membingungkan terutama bagi orang yang baru menempuh perjalanan ke sana. Marka jalan juga hanya ada di dalam kota, begitu kami keluar dari kota kabupaten, maka jalan-jalan yang kami lalui tidak lagi dilengkapi marka jalan. Di lain sisi, jarang sekali saya menemukan rumah penduduk di kanan kiri jalan, kecuali masuk di perkampungan tertentu, itupun tidak sampai satu kilometer, lalu jalan yang kami lalui kembali gelap gulita. 

Kabupaten Barito Utara termasuk sebagai salah satu kabupaten tertua di Indonesia. Akan tetapi jika diamati sekilas, tetap saja terlihat pembangunan wilayah di daerah ini berjalan masih lamban, atau mungkin tidak punya target terlalu jauh sebagaimana kota-kota seperti Balikpapan, Bontang, atau Bukittinggi di Sumatra. Jalan-jalan penghubung antar desa dan ibukota kabupaten belum banyak yang beraspal, listrik belum menjangkau semua titik-titik pemukiman di daerah Montallat dan Rarawa. 

Baru beberapa jam setelah turun dari mobil dan hanya menikmati tidur sejenak, kami berangkat ke salah satu lokasi transmigran yang berlokasi di Desa Se Rahayu km 52 dan juga berbatasan langsung dengan Kabupaten Murung Raya. 

Di sana saya bertemu dengan salah seorang transmigran asal Jawa Timur, Pak Sarjio. Dia adalah satu dari ribuan orang Jawa yang “diangkut” untuk mendiami Kalimantan setelah program transmigrasi berjalan pada 80-an. Sekelilingnya terdengar ciprat air. Sulit dipercaya, tetapi saya benar-benar melihat kolam ikan di tanah Kalimantan. Saat itu Pak Sarjio tengah sibuk mengerjakan bangunan untuk kolam lele dan patin. 

Sambil bersenda gurau, dirinya mengajak saya melihat-lihat sebentar kolam pembenihan ikan lelenya. Namanya lele Sangkuriang, kata Pak Sarjio dengan penuh semangat. Dirinya begitu antusias bercerita banyak hal, terutama terkait soal mengapa Pak Sarjio memilih menggeluti usaha budidaya perikanan darat, alih-alih ikut-ikutan menanam sawit dan memilih karet. “Saya tidak menanam sawit, karena kalau sawit umur 25 tahun sudah harus ganti, tapi kalau karet 25 tahun semakin bagus getahnya, untungnya masih bagus karet, sekalipun harganya turun.”  

Pak Sarjio sesekali menambahi keterangannya dengan guyon khasnya, yang mengibaratkan dirinya seperti rumput, kalau rumput diinjak-injak tidak apa-apa, begitu dia menggambarkan nasibnya sebagai rakyat kecil. Sarjio mendarat di Borneo sebagai transmigran asal Jawa pada 1986. Selain bercocok tanam sebagai pekerjaan wajib, Sarjio mengaku kala itu dia sudah mulai pula mengerjakan banyak pekerjaan lain. 

Sebelum menjalankan usaha pembenihan lele, dia bekerja sebagai buruh bangunan. Tiga tahun terakhir mulai menanam karet dan setahun terakhir mulai berkebun sayur mayur. Tapi dengan hitung-hitungan sendiri, akhirnya lele jadi primadona baginya. Alasannya sederhana: karena faktor usia dan tenaga, juga karena usaha pembenihan lele dianggapnya lebih banyak manfaatnya. 

Sarjio mengungkapkan jika hampir setiap minggu dia bisa menjual ratusan benih lele yang dihargai Rp.300,-/lele. Beda lagi dengan pembesaran, kalau pembesaran lele, baru bisa dipanen setelah tiga bulan. Dari hitung-hitungan biaya pemeliharaan, dan pakan, Sarjio akhirnya fokus pada usaha pembenihan lele.


“Kami perantau, warga transmigran, kami berdaya” 

Bantuan pemerintah dalam hal ini Dinas Perikanan atas usaha-usaha pengembangbiakan benih lele dinilai sudah cukup membantu. Dinas Perikanan tetap memerhatikan keberlangsungan usaha kelompok pembenihan lele. Menurut Sarjio, biasanya orang dinas yang memasarkan kembali benih lele untuk memudahkan distribusi benih lele. Selebihnya dijual ke pasar dan menyediakan pesanan rumah makan. 

Sejauh ini hambatan yang paling besar dirasakan adalah keseriusan anggota kelompok pembenihan. Sarjio menuturkan, tidak jarang ada anggota yang tidak sabar, ingin segera meraup untung sebanyak-banyaknya. Jika terlalu lama menunggu hasil dari pembenihan lele, perhatian anggota pembenihan bisa beralih ke profesi lain. Apalagi sumber pendapatan ekonomi di sana sangat bergantung pada kelapa sawit dan karet. Karena alasan itu pula, Sarjio berusaha memanfaatkan lahan kurang dari setengah hektar untuk menanam sayur-sayuran, cabe dan juga padi. 

Pak Sarjio berusaha mencari penghasilan dengan cara kreatif berdasarkan pembagian waktu. Ada penghasilan mingguan yang berasal dari penjualan benih lele, penghasilan bulanan dari sayur-sayuran dan penghasilan tahunan dari tanaman karet. Semua ini dilakukan Pak Sarjio sebagai upaya membangun kemandirian. Sarjio sangat bersemangat menceritakan harapan-harapannya di masa depan terkait usaha pembenihan lele Sangkuriang. 

Dia berharap pengembangan lele berikutnya tidak lagi fokus pada pembenihan saja, melainkan sudah sampai pada tahap pengolahan ikan lele. Ragam kuliner dapat dihasilkan dari lele seperti kripik dan kuliner khas seperti lele asam manis. 

“Kalau tidak dibakar, tidak bisa meladang” 

Tidak seperti tetangga dekat tempat tinggalnya yang katanya memilih menanam sawit, Pak Sarjio lebih memilih karet. 

Menurutnya untuk membuka lahan sawit, atau membersihkan lahan sawit cara paling umum bahkan sudah jadi tradisi masyarakat setempat adalah dengan cara dibakar. Hanya cara itu yang bisa dilakukan karena tidak memakan banyak biaya, sekalipun dampak lingkungan yang ditimbulkan juga cukup besar. Karena alasan itu pula, Pak Sarjio memilih menanam karet. Selain karena harus membakar lahan lebih dulu, menanam sawit kurang baik untuk ketersediaan air tanah. 

Sarjio menjelaskan jika menanam sawit membutuhkan air lebih banyak, dengan begitu dia khawatir sumber mata air sekitarnya akan kering. Sungguh sebuah pemikiran yang sangat baik jika disebarkan ke seluruh warga sekitar. “Sebelum menanam sawit, memang harus ada pembakaran lahan dulu mbak, setelah itu ditanami padi, baru ditanami sawit.” Pak Sarjio menjelaskan jika dirinya juga tidak pernah menghakimi pilihan teman-temannya yang ikut menanam sawit dan membakar lahan, karena alasan mereka sama-sama cari makan. 

Akan tetapi, melihat usaha yang sementara ini dijalankan Pak Sarjio dengan mengembangkan pembenihan lele, saya percaya pelan-pelan dan bertahap warga sekitar bisa mengikuti jejaknya. Berdaya secara ekonomi dan tetap menjaga lingkungan itu yang diharapkan Pak Sarjio tanpa lekas-lekas menyalahkan aksi pembakaran lahan oleh teman-temannya. 

Karena sampai saat ini memang tidak ada terobosan baru dalam hal meningkatkan kesejahteraan orang Teweh selain berkebun karet dan sawit dengan cara membakar lahan. Diam-diam saya mengagumi orang ini, ternyata tinggal di desa dan jauh dari ibukota kabupaten tidak pernah menyurutkan ide dan kreativitasnya untuk terus berdaya di daerah transmigrasi. “Kita ini perantauan, kalau tidak berusaha cari makan sendiri, tidak kerja, maka kita bisa mati kelaparan, itu rumusnya nggih.” 

Kembali dia terkekeh-kekeh sambil sesekali bergurau dengan teman-temannya dengan Bahasa Kalimantan yang sudah terdengar fasih di telinga saya. Dari perjalanan ini saya belajar satu hal, apa yang saya pelajari dan ketahui ternyata tidak sebanyak realita yang ada di lapangan. Tanah Kalimantan menyimpan masih banyak masalah, tetapi tak pernah kehilangan orang-orang yang ingin memperbaiki dari hal-hal sederhana. 


Pak Sarjio juga membuka pandangan lain pada saya, bahwa masalah di sana bukan hanya isu lingkungan. Ada banyak masalah yang cukup kompleks di sana, tanah yang kaya mineral, subur dengan hutan lebatnya tapi ternyata belum memberi banyak perubahan berarti dalam kehidupan mereka. Jauh di dalam batas kritis antara lahan-lahan hutan, tanaman produksi dan ceruk-ceruk pertambangan yang menggurita, ada upaya-upaya tanpa suara yang meneruskan perjuangan pulau ini sejati dirinya, seumpama paru-paru kepulauan yang tersohor dan berjaya.




Tuesday, April 11, 2017

Keramahan di Yomakan




“Kakak, sini tangannya kitorang mau bantu kakak.”

Suara anak-anak di Yomakan ini masih terngiang-ngiang kala melihat foto-foto mereka. Setelah perahu kami bersandar di sisi tanggul, segerombolan anak-anak langsung mengerubuti, berlomba-lomba menjulurkan tanggannya membantu kami menaiki tanggul di bibir pantai.

Senang melihat mereka yang begitu antusias menyambut kami rombongan Dinas Pariwisata dan teman-teman dari WWF. Hal yang saya sesali waktu itu, karena tidak membawa cenderamata untuk anak-anak ini. Wajah lugu mereka begitu meninggalkan kesan mendalam, anak-anak yang jauh dari hiruk pikuk kota, tinggal di pulau terpencil tapi tahu bagaimana menolong orang.

Yomakan adalah salah satu distrik (setingkat kecamatan) di Kabupaten Teluk Wondama, Provinsi Papua Barat. Mencapai Pulau Yomakan nyatanya sangat sulit karena tidak ada akses darat selain menggunakan perahu mesin yang biasanya disewakan.

Penduduk asli Yomakan biasanya bepergian dengan perahu mereka sendiri karena sebagiannya adalah nelayan. Sedangkan Waktu tempuh dari Pelabuhan Wasior (Ibukota Kabupaten) ke Kampung Yomakan bisa menghabiskan waktu sekitar 5 jam. Sebenarnya waktu tempuh bisa lebih singkat atau lebih lama, tergantung kecepatan angin dan gelombang laut.

Umumnya perjalanan di malam hari dengan perahu mesin tidak dianjurkan, selain karena gelombang laut cukup tinggi para nelayan juga khawatir dengan adanya kayu gelondongan yang terbawa arus menuju laut. Kayu ini jika menghantam perahu kecil tersebut bisa berakibat fatal. Karena alasan itu kami menginap di salah satu rumah penduduk dan berencana melanjutkan perjalanan keesokan harinya.

Malam pun tiba, kami dibawa menuju posko WWF lebih dulu untuk bersih-bersih badan. Rumah-rumah penduduk di Kampung Yomakan tidak memiliki fasilitas sanitasi sendiri-sendiri. Mereka menggunakan toilet bersama, sumur bersama untuk digunakan bersama-sama. Saya awalnya masih sungkan, tapi daripada bau air garam di badan tidak hilang-hilang akhirnya saya pasrah saja.



Begitu pemilik rumah tahu kami ingin ke kamar mandi umum, mereka mengabari tetangga yang lain untuk menyalakan lampu dan mengisi bak mandi dari air sumur yang tidak jauh dari kamar mandi umum itu. Jujur saja saya merasa begitu besar perhatian penduduk di Kampung Yomakan, lalu akhirnya saya meminta agar cukup menyalakan listriknya saja, soal air biar kami yang gantian mengisi bak mandinya.

Awalnya saya pesimis soal kebersihan toilet dan kamar mandinya, ternyata begitu sampai saya lihat toilet mereka bersih dan tidak ada bau aneh-aneh. Wah saya senang sekali dan sekali lagi kagum dengan kesadaran penduduk setempat untuk memelihara fasilitas umumnya. Sampai beberapa jam berlalu saya memang baik-baik saja dan tidak menemukan masalah berarti di kampung yang hanya mengandalkan pencahayaan dari panel-panel surya.

Walaupun terpencil, tapi sudah menerapkan konsep Air B&B

Saya terkadang menemukan kejutan-kejutan di perjalanan, baik kejutan menyenangkan, maupun kejutan yang mampu membuat saya selalu ingat Tuhan karena rasanya kematian ada di depan mata. Kejutan menyenangkan biasanya saya dapati dari keramahan orang-orang yang saya temui di sela-sela perjalanan. Ibaratnya seisi alam berkonspirasi memuluskan keberanian saya bepergian di tempat-tempat yang belum terjamah pembangunan.

Kejutan lain yang memacu adrenalin dan seketika saja semua doa dan dzikir keluar di mulut saya adalah ketika menyeberangi lautan lepas keluar dari gugusan pulau-pulau kecil di perairan Teluk Wondama menuju Pulau Yomakan. Waktu itu saya bepergian di awal bulan Desember yang dikenal oleh penduduk setempat sebagai musim gelombang tinggi. Jika kapal speed saja bisa oleng ke kanan ke kiri, apa jadinya jika yang saya tumpangi itu hanya perahu kecil dengan mengandalkan dua mesin turbo.

Perjalanan ke Kampung Yomakan memang seru sekaligus menyadarkan saya, betapa kecilnya kami (sekumpulan manusia dan perahu) di tengah lautan lepas seperti itu. Kengerian sepanjang perjalanan menuju Kampung Yomakan akhirnya tercurah ketika kami bersantap malam di salah satu rumah penduduk yang menyediakan fasilitas berbagi ruang bagi wisatawan. 

Kengerian itu berubah jadi gelak tawa begitu tahu salah satu rekan kami yang sepanjang perjalanan kelihatan tangguh tidak takut ternyata sudah memikirkan ingin menggunakan jerigen kosong jika tahu-tahu perahu kami terbalik.


Bagian unik lainnya yang membuat saya lagi-lagi tidak habis pikir adalah cara pemilik rumah menyambut dan melayani kami. Dari obrolan saya dengan Pak Pasai (mitra kerja WWF) saya jadi tahu jika beberapa rumah penduduk di Kampung Yomakan sudah disiapkan sebagai homestay bagi wisatawan. Rumah mereka sebenarnya tidak terlalu besar, tapi karena tidak banyak perabotan jadi terasa lapang.

Rumah-rumah mereka ini terdiri dari ruanng tamu, ruang keluarga, dua kamar tidur dan ruang makan yang bergabung dengan dapur. Ruang makan ini memang agak luas, cukup untuk menampung 13-15 orang untuk duduk lesehan. Ruang tamu, ruang keluarga ini lah yang mereka gunakan sebagai kamar tidur bagi tamu-tamu yang datang rombongan.

Dapurnya di rumah ini bersih, dan anaknya juga ikut membantu kami memasak. Saat makan, mereka tahu cara menyajikan peralatan makan dengan baik, mereka juga menolak ketika kami ajak makan bersama. Pemilik rumah dan keluarganya baru ikut makan setelah kami selesai makan.

Entah penduduk Yomakan sadar atau mengerti soal konsep jenis-jenis penginapan, tetapi menurut saya mereka sudah berhasil menerapkan konsep Air B&B seperti yang banyak dilakukan pemilik properti di kota-kota besar. Malam harinya mereka menggelar tikar dan memberi bantal untuk masing-masing orang, selimut juga disediakan.

Sebelum tidur pemilik rumah juga menanyakan kira-kira ingin dibangunkan jam berapa dan memohon maaf bagi yang muslim di desa mereka memang tidak ada masjid jadi jika ingin shalat mereka sudah menunjukkan ruangannya, dan memberi tahu arah kiblat. Mereka pasti tahu arah mata angin, karena mereka adalah sahabat laut yang beratapkan langit malam. Insting alam dan cara mereka membaca tanda-tanda alam dari hembusan angina, kepekatan udara cukup membuat saya terkesan.

Sebelum akhirnya saya benar-benar terlelap, sesekali saya membayangkan kejadian di perahu motor tadi. Bagaimana caranya, nelayan yang tanpa GPS (Global Positioning System) tahu kapan harus berbelok, memutar arah ketika berada di tengah lautan, yang sejauh mata ini memandang sekelilingnya hanya ada lautan luas dan riak ombak. Sambil memikirkan itu semua, sayup-sayup saya mendengar lagu India yang berbunyi dari handphone yang belum memiliki kualitas stereo yang cukup ngebass.

Ingatan saya berikutnya tentang lagu-lagu India. Lagu India ini ibarat rempah-rempah, langka dan bikin nagih. Lagu India mampu menembus jarak ribuan kilometer, gelombang laut yang tinggi untuk sampai di salah satu kampung terpencil di Papua. Entah kesamaan apa yang menjadikan lagu India jadi pengantar tidur putri si pemilik rumah, yang jelas ketika saya terbangun pukul 02.00 pagi lagu India itu masih terngiang-ngiang.


***
Copyright © 2014-2015 Mimpi Kota