Wednesday, May 24, 2017

Freelancer dan Bisnis E-commerce di Era Millennial

Era digital, masa dimana seluruh gerak dan aktivitas sehari-hari kita harus ditunjang dengan kemudahan mengakses berbagai informasi secara mobile, dimanapun dan kapanpun. Tak terkecuali dunia kerja yang semakin menuntut efektivitas dan efisiensi waktu namun tetap menghasilkan pekerjaan yang berkualitas. Jarak tidak lagi dibatasi dengan sekat-sekat administrasi, dalam dunia maya kita hampir tak dibatasi apapun, selama koneksi dan jaringan telekomunikasi tidak bermasalah maka seluruh orang di berbagai belahan dunia ini dengan mudahnya saling berinteraksi.

Dalam dunia kerja, terutama setelah memasuki era millennial setiap orang dituntut cepat, maksimal dalam melakukan pekerjaannya. Jarak dinilai bukan lagi masalah terutama bagi kelompok kaum urban yang memilih bekerja sebagai freelance. Freelance sendiri adalah julukan bagi mereka yang bekerja di mana saja, tidak berkantor dan bekerja dengan patokan waktu yang umum dilakoni karyawan di kantor-kantor pemerintahan dan swasta. Pekerja freelance yang mengerjakan proyek dan menjalankan bisnis dari rumah ini dikenal dengan istilah cyberhome

Data yang dilansir dari freelancer.co.id mencatat bahwa tahun 2015 menjadi tahun paling bersejarah bagi freelancer.com karena berhasil mencapai jumlah anggota sebanyak 15 juta anggota, dan lebih dari 7,4 juta proyek yang dikirimkan dengan nilai proyek lebih dari US$2,2 milliar. Dari angka tersebut, 500 ribu berasal dari Indonesia dan memiliki pertumbuhan yang cukup pesat diantara empat negara lainnya. Hal ini didukung dengan besarnya jumlah kelompok berpendidikan di Indonesia yang memilih bekerja sebagai freelance, dengan berbagai alasan. Salah satunya adalah kemudahan mengatur waktu dan tidak mengikat.

Sebagai pekerja freelance, saya juga merasakan banyak manfaat ketika beralih menjadi freelance dibanding bekerja sebagai karyawan tetap dalam satu perusahaan. Kurang dari dua tahun saya sudah bekerja pada dua perusahaan berbeda, alasannya berbeda-beda ketika saya mulai jenuh dari perusahaan yang pertama lalu resign dan masuk ke perusahaan yang menjanjikan penghargaan dan jenjang karir yang lebih baik.

Ternyata sekalipun saya digaji dengan upah tiga kali UMR dengan berbagai insentif yang sangat manusiawi bagi karyawan wanita, saya tetap merasa ingin segera berhenti dan memulai sesuatu yang baru. Sebagai lulusan Teknik (Teknik Planologi) yang terbiasa berada di lapangan, dan kegiatan survei maka berada berjam-jam di kantor dengan intensitas pekerjaan yang cukup padat, dan keleluasaan menggunakan waktu yang terbatas saya akhirnya memilih resign untuk kedua kalinya.

Tawaran menggiurkan datang ketika Saya diminta membantu pekerjaan perencanaan di Bappeda salah satu kabupaten di Provinsi Papua Barat. Saya akhirnya berprofesi sebagai tenaga ahli Perencanaan Wilayah dan Kota dan mengerjakan dokumen perencanaan tata ruang untuk daerah-daerah di Indonesia Timur dan Indonesia bagian Barat. Hal ini sangat menyenangkan karena saya bisa mengerjakan dimana saja pekerjaan tersebut. Setelah melakukan survei di daerah dan kembali ke Jogja kemudian memulai menyusun dokumen perencanaan bersama seluruh tenaga ahli yang terlibat. Postifinya adalah sebagai freelancer Saya bebas melakukan jadwal kerja saya sendiri selain deadline tetap yang sudah diputuskan pihak pemberi pekerjaan.

Dari pekerjaan ini dalam setahun saya bisa mengerjakan proyek hingga Tujuh pekerjaan dengan profit yang jauh berkali-kali lipat dibandingkan ketika saya menjadi karyawan tetap. Sistem bekerja freelance ini sangat mengandalkan kekuatan koneksi internet, mengingat kuota internet untuk mengirimkan dokumen-dokumen setiap bulannya cukup besar, belum materi-materi dan peta satelit dari Google Earth yang harus senantiasa harus diakses dalam menunjang penyusunan dokumen perencanaan pembangunan wilayah di daerah studi.

Bekerja sebagai freelance dengan ruang kerja yang tersebar dimana saja, memudahkan saya melakukan kegemaran lain yang sempat terbengkalai ketika menjadi karyawan tetap. Kegemaran saya yang lain adalah menulis reportase warga kota di Kompasiana.com. Kegemaran ini berhasil membantu saya dalam menemukan konten tulisan yang cukup spesifik dan saya kuasai, yakni tata kota. Berkat keseriusan saya menulis di tahun 2012-2014 saya mulai melihat arah konten tulisan yang semakin mengerucut dan detil. Kini sejak kembali menjadi freelancer, saya mulai fokus menyusun sebuah buku dari hasil kumpulan tulisan-tulisan saya di blogdan kompasiana.

Perempuan dan Pilihan Bekerja Sebagai Freelancer

Data yang dihimpun oleh OECD (Organisation for Economic Co-Operation and Development) menunjukkan jika pertumbuhan jumlah pemilik bisnis start-up di Eropa Utara seperti Denmark cukup tinggi. Data ini masih berkembang dan akan berkembang di negara-negara Eropa lainnya seperti Denmark dan Jerman. Indonesia sendiri memiliki potensi yang cukup menjanjikan dalam bisnis startup yang digeluti oleh kaum wanita. Pengemudi Gojek Online kini juga mulai dilirik oleh kelompok wanita, atau yang memilih bekerja dalam bisnis on-line dengan alasan bisa mengontrol pekerjaan dari rumah dan keluarganya tetap diperhatikan.



Alasan lain mengapa perempuan di kota-kota besar memilih bekerja dari rumah adalah faktor keamanan. Menjadi karyawan wanita yang setiap hari harus berkutat dengan transportasi umum dengan segala masalahnya justru sering menimbulkan masalah serius bagi perempuan. Pelecehan baik yang terjadi di dalam angkutan umum maupun di jalan menuju tempat kerja sangat mengkhawatirkan sehingga cukup menimbulkan dampak traumatik bagi mereka yang menggunakan transportasi umum sebagai moda utama dalam menunjang aktivitas mereka.

Kini setelah pertumbuhan internet dan pembangunan jaringan/infrastruktur telekomunikasi dibangun pemerintah, secara massive pertumbuhan bisnis on-line ikut kena imbas tren positif. Bisnis on-line ini memang paling dilirik oleh ibu rumah tangga, atau mantan karyawan yang memang memiliki sensitivitas bisnis yang cukup bagus. Hasilnya cukup memuaskan karena jumlah entrepreneur perempuan yang bergabug dalam bisnis belanja on-line juga cukup tinggi.


Ere Millennial, Saatnya Menjalankan Bisnis dan Bekerja Dari Rumah

Melihat tren perkembangan bisnis on-line dan pekerja freelance di Indonesia, maka yang perlu disiapkan oleh pemerintah adalah sistem pengawasan bisnsis terutama yang melibatkan transaksi keuangan on-line. Dukungan infrastruktur teknologi juga sangat dibutuhkan oleh pemerintah agar dominasi pekerja freelance dan bisnis on-line tidak hanya dinikmati oleh kaum urban saja, melainkan bisa menjangkau kelompok wirausahawan yang ada di daerah-daerah terpencil.

Seperti yang sering kita temukan ketika mengunjungi lokasi wisata di daerah-daerah terpencil, rata-rata penduduk setempat memiliki kreativitas lokal dalam bentuk kerajinan tangan/handmade yang bernilai jual cukup tinggi. Daripada mengandalkan sepenuhnya pada kunjungan wisatawan yang tidak menentu, para pemilik usaha kerajinan tradisional ini bisa memanfaatkan teknologi untuk memasarkan produk mereka secara global.

Selain infrastruktur teknologi, pemerintah provinsi perlu menggenjot pembangunan infrastruktur fisik di daerahnya agar bisa mendukung kegiatan operasional dari bisnis on-line ini seperti kemudahan pengiriman barang. Biaya pengiriman barang akan terjangkau jika infrastruktur jalan, transportasi darat dan laut melayani arus pergerakan barang di daerah-daerah terpencil.

Karena sebuah kreativitas hanya bisa lahir dari peradaban, dan peradaban yang dibangun tidak lepas dari komitmen pemerintah dalam membangun daerahnya. Peluang besar menjadi bangsa dengan pertumbuhan bisnis e-commerce yang cukup menjanjikan, dan peran perempuan dalam menunjang pertumbuhan bisnis tersebut harus diperhatikan oleh pemerintah. Kendala-kendala di lapangan harus segera diselesaikan sehingga ekonomi kreatif di Indonesia mampu menguatkan perekonomian Indonesia secara global.

***


Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog Indonesia Guncang Dunia 2017







1 comment:

Apa pendapatmu?

Copyright © 2014-2015 Mimpi Kota