Sunday, June 9, 2013

Bernapas tanpa Paru-paru


Sumber gambar: CIFOR dan WWF 2007


Setiap detik kita kehilangan hutan seluas 1 ha , penebangan hutan menyebabkan  sekitar 137 jenis tanaman musnah, spesies hewan dan serangga hilang setiap hari. Dampak dari kehilangan hutan ini menyebabkan munculnya berbagai macam wabah penyakit. Selain itu kita teramcam kehilangan sekitar 25 % sumber obat-obatan berasal dari spesies tanaman yang terdapat di dalam hutan. Pada tahun 2005 tercatat sekitar 0.89 juta meter kubik kayu yang dihasilkan dari illegal loging Sedangkan hutan di Indonesia luas hutan yang rusak dan tidak berfungsi dengan optimal mencapai 59,6 juta hektar.  

Kerusakan hutan selain merugikan manusia juga merugikan habitat yang hidup di dalam hutan, seperti di Kalimantan populasi orang utan dan bekantan semakin berkurang. Selain itu bencana alam seperti banjir bandang semakin sering terjadi, akibat perubahan pemanfaatan penggunaan lahan untuk kawasan hutan lindung berubah menjadi kawasan hutan dengan pemanfaatan terbatas. Perubahan pemanfaatan lahan inilah yang memberi celah bagi beberapa pihak untuk melakukan eksploitasi sumberdaya alam hutan seperti pembalakan liar.

 Beberapa negara di Amerika Latin seperti Brazil, Mexico, Ekuador dan Wilayah Caribia (LAC Latin America and  Caribbean Region) bekerja sama dengan Bank Dunia memberikan investasi dalam mendukung program pemerintah dengan membentuk sebuah institusi yang bergerak dalam bidang konservasi keanekaragaman hayati. Program utama yang dicanangkan adalah menata manajemen lahan untuk kehutanan tanpa melanggar prinsip-prinsip perlindungan bagi kawasan hutan konservasi. Negara Kolumbia, Kosta Rika dan Nikaragua berhasil meningkatkan dan mengembangkan sistem pertanian berkelanjutan yang berintegrasi dengan daerah pinggiran. 

Selain itu pemerintah bekerjasama dengan komunitas lokal dalam pemeliharaan hutan yang bertujuan menjaga kualitas sumber air bersih. Tidak jauh berbeda dengan negara Kolumbia yang memanfaatkan peran serta masyarakat lokal, negara Brazil menciptakan sebuah master plan konservasi hutan dengan misi inovasi, partisipasi masyarakat, dan membangun jaringan bersama masyarakat lokal. Manfaat yang diperoleh kedua negara tersebut adalah terpenuhinya kebutuhan air bersih sehingga mampu menyuplai air bersih secara merata di seluruh wilayah perkotaan. Sistem penyaluran air bersih yang diciptakan adalah dengan menggunakan teknologihydroelectricity. Teknologi hydroelectricity merupakan pemanfaatan potensi air dengan menggunakan tenaga hidro untuk menggerakkan turbin air dan generator.

Di Indonesia Rencana Tata Ruang Wilayah sebagai dokumen perencanaan, pemanfaatan dan pengendalian ruang telah menetapkan status hutan dalam suatu daerah yang berfungsi menjadi hutan konservasi dan hutan dengan fungsi pemanfaatan terbatas. Konsekuensinya dengan menjaga kelestarian hutan setara dengan kontribusi dalam upaya mitigasi perubahan iklim dan penyelamatan lingkungan hingga tahun 2050. Melindungi area hutan 272.ooo km² dari pembalakan liar, juga sebanding dengan menyelamatkan udara dari emisi karbon hingga 3,3 gigaton karbon. 

Akan tetatpi hal ini menjadi sesuatu yang absurd karena sekalipun kita mengetahui manfaat melestarikan hutan bagi kelangsungan seluruh mahluk hidup di muka bumi ini, tetap saja aksi pembalakan liar, merusak ekosistem hutan terus berlangsung. Ketika bencana alam terjadi, semua kembali merenung, berpikir, namun setelah itu semua kembali seperti semula, jadi bukan tidak mungkin sebentar lagi kita menyambut “kehidupan baru”, mari “bernafas tanpa paru-paru”.



Gambar:CIFOR dan WWF 200

1 comment:

Apa pendapatmu?

Copyright © 2014-2018 Mimpi Kota