Sunday, June 9, 2013

Melestarikan Hutan ala Suku Kajang

Praktik penebangan kayu sudah dimulai sejak tahun 3.500 SM di Mesopotamia sekitar pemerintahan kerajaan Sumeria. Praktik penebangan kayu (timber extraction) telah berlangsung selama 4 milenium, bisa dibayangkan berapa luas hutan yang telah habis untuk berbagai macam kegiatan salah satunya adalah perdagangan. Berdasarkan data Simon (1999),disebutkan bahwa negara di Eropa membutuhkan waktu 1.300 tahun untuk menghabiskan kayu dari hutan alam yang ada, 1.000 tahun untuk hutan alam jati di Jawa, dan 20 tahun untuk hutan meranti di luar Jawa. 

Praktik penebangan hutan yang terjadi begitu cepat di Indonesia, disebabkan karena Indonesia merupakan negara berkembang yang membutuhkan dana yang besar untuk melakukan pembangunan. Sebelum bangsa Indonesia merdeka, Belanda dengan VOC-nya telah menguasai penebangan hutan jati, sehingga pada tahun 1650 kerusakan hutan mulai menunjukkan laju yang nyata. Tidak mengherankan pada awal abad ke- 19 hutan jati di Jawa dinyatakan rusak berat. Setelah kemerdekaan, pemerintah Republik Indonesia mengundang para pemilik modal untuk menggarap habis seluruh hutan di Pulau Jawa. Oleh penduduk setempat, areal bekas tebangan digunakan oleh penduduk untuk membuka lahan baru yang digunakan untuk kegiatan pertanian.

Bahkan awal berdirinya kerajaan-kerajaan bermula di atas tanah subur yakni hutan, kemudian semakin lama kerajaan semakin besar karena memanfaatkan hutan untuk kegiatan perdagangan dengan negara tetangga. Merunut sejarah pembukaan lahan hutan tersebut, dapat dikatakan bahwa sejak dahulu kegiatan pembalakan pohon di hutan atas dasar kepentingan pemerintah pada saat itu, kemudian dimanfaatkan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. Keuntungan finansial melalui kegiatan “ekonomi hutan” tidak sebanding dengan kerugian yang ditimbulkan. 

Dampak linkungan, rantai ekosistem terganggu, akibatnya berbagai wabah penyakit, virus semakin mudah menyerang umat manusia. Dampak bencana alam seperti tanah longsor dan banjir bandang juga menelan banyak korban jiwa dan kerugian materi. Namun seakan tidak memberi efek jera, pembalakan liar terus saja berlangsung, bahkan yang sangat memprihatinkan karena setiap departemen yang berwenang memiliki standar penghitungan sendiri dalam menetapkan status fungsi kawasan hutan, akibatnya hutan yang seharusnya menjadi hutan konservasi berubah fungsi menjadi hutan produksi.

Melestarikan Kearifan Lokal, Menyelamatkan Hutan
Pemanfaatan kayu hutan untuk menghasilkan kertas, tisu dan berbagai macam perabotan rumah tangga menjadi sesuatu yang dilematis dan kompleks. Kita dihadapkan dengan ancaman lingkungan dan sisi lain tuntutan ekonomi mutlak harus terpenuhi. Pola hidup hedonis menggerogoti seperti kanker dalam kehidupan manusia. Di tempat lain, tepatnya di Kabupaten Bulukumba terdapat satu suku yang sangat menjaga kelestarian hutan mereka. Suku ini dikenal dengan nama suku Kajang. Prinsip ekologi yang dianut oleh masyarakat suku Kajang disebut “tallasa kamase-mase”. 

Prinsip ini diterapkan dalam kehidupan masyarakat suku kajang yang dicirikan dengan masyarakat yang hidup sederhana dan bersahaja. Suku Kajang membagi kawasan hutan ke dalam tiga bagian yaitu: hutan Borong Karamaka atau hutan keramat, hutan Borong Batasayahutan Borong Luara. Pembagian zona kawasan hutan ini berfungsi untuk mengajarkan kedisiplinan bagi warga untuk mentaati peraturan yang dibuat oleh ketua adat. Secara psikologi juga berfungsi untuk menekan sifat rakus manusia terhadap alam. 

Selain suku Kajang, masyarakat Kampung Naga juga dikenal dengan pemeliharaan hutan konservasinya, masyarakat Kampung Naga memiliki sistem pemanfaatan lahan yang menjunjung tinggi prinsip keberlanjutan sumberdaya alam dan manusia yang tertuang dalam struktur ruang menyerupai sistem anatomi tubuh manusia. Suku Kajang maupun masyarakat Kampung Naga telah mengajarkan kita bagaimana mengelola dan memanfaatkan hutan dengan kearifan lokal yang mereka miliki. Nilai-nilai kearifan inilah yang sepatutnya menjadi pembelajaran bagi kita semua, dan senantiasa mengingatkan kita bahwa pola hidup sederhana dan menjaga alam akan menyelamatkan kelangsungan hidup umat manusia selamanya.


Lokasi kawasan Suku Kajang

0 comments:

Post a Comment

Apa pendapatmu?

Copyright © 2014-2015 Mimpi Kota