Sunday, June 9, 2013

Selimut Imajinasi




Aroma ketulusan begitu terasa tatkala kau menghampiri sisi kehidupanku yang sangat naif, kekanak-kanakan dan awam dengan keadaan sekeliling. Hingga akhirnya aku menyadari bahwa aku menemukan hal yang sangat berbeda ketika bersamamu. Perlakuan dan seluruh sikapmu mengajarkan aku banyak hal tanpa perlu kau jelaskan tapi cukup untuk dipahami.

Kau tidak pernah berkata ini salah dan itu benar, kau begitu terbuka dengan semua perbedaan disekelilingmu dan bisa sangat acuh sampai tidak peduli sama sekali jika hal tersebut hanya merusak kualitas hatimu. Terkadang aku bisa merasa begitu dekat denganmu namun terkadang aku juga bisa merasa sangat jauh darimu. kau mampu memainkan emosi di jiwaku, dan yang kutau itu bukanlah pelampiasan nafsu secara gamblang, karena aku tau kau tidak pernah menyeretku untuk merasakan hal itu.

Hari-hari berikutnya kudapati diriku sudah tidak bersamamu lagi seperti hari sebelumnya. "Kepergianmu"  dari keseharianku sebenarnya bukanlah hal yang membuatku gundah, tapi kepergianmu dari alam bebas fikiran dan imajinasikulah yang membuat hatiku begitu nelangsa. Hanya dengan bersamamu aku bisa menghabiskan lembaran celotehan mengenai imajinasi liarku yang tak terbatas. Kau tidak sekedar mendengarkan tetapi berusaha memahami nalarku yang "nakal". 

Ada sebuah ungkapan yang mberbunyi bahwa "Nalar mampu membawa kita dari A - B, namun Imajinasi mampu membawa kita dari A - kemanapun dan kamu sedang melakukan itu pada diriku. Entah ini gejolak mercusuar belaka atau apa, namun satu hal yang mampu aku bahasakan bahwa aku mengangumi keleluasaanmu menjamah alam fikiranku agar terus menjadi diriku sendiri dan berani menatap dunia ini, "ambil bantal dan selimutmu, lalu teruslah berjalan dan menatap dunia yang telah menunggumu di depan sana, dunia yang menunggumu itu sangat indah dan luar biasa", itulah pesan terakhirmu yang mengakhiri "kebersamaan" kita.

                                                                                                                            Yogyakarta, 8 Juli 2012

0 comments:

Post a Comment

Apa pendapatmu?

Copyright © 2014-2015 Mimpi Kota