Saturday, April 12, 2014

Dusun Kuwang: Kehidupan Berlanjut di Lereng Merapi

Siang itu 9 April 2014 bertepatan dengan pemilihan legislatif, saya berkesempatan mengunjungi Sleman, ke salah satu dusun yang menjadi tempat tinggal warga korban erupsi Merapi 2010. Gapura gerbang masuk memberitahu saya kalau nama dusun ini adalah Kuwang, terletak di desa Agromulyo, Cangkringan. Saya tertarik dengan tulisan di salah satu blog yang berkisah tentang kehidupan di dusun Kuwang (baca disini).

Erupsi Merapi Yogyakarta Selasa 26 Oktober 2010 
(sumber: Antara/Wahyu Putro A)

Erupsi Merapi  mengingatkan saya pada sosok yang disegani karena pengabdian dan kecintaannya yang luar biasa pada tugasnya sebagai juru kunci Merapi, Mbah Marijan. Mbah Marijan mengajarkan publik saat itu bahwa ketika sumpah sebagai juru kunci Merapi dilakoni, sejak saat itu pula seluruh hidupnya diabdikan untuk menjalankan amanah.

Tahun 2014, semuanya telah berubah, tidak ada lagi keputusasaan seperti yang terjadi pada tahun 2010. Masyarakat perlahan menata kembali kehidupannya. Bersahabat dengan Merapi yang juga dianggap sebagai berkah dari alam. Tanah yang subur, air sungai yang jernih mengaliri desa-desa yang hanya berjarak 4 kilometer dari Merapi. Saat ini sebagian korban erupsi yang berasal dari Cangkringan memiliki hunian baru di dusun Kuwang.

Memasuki dusun Kuwang terlihat jajaran bangunan rumah penduduk dengan bentuk seragam. Kondisi fisik bangunan terlihat masih baru, dilihat dari tumpukan sisa material bahan bangunan yang ada di halaman depan rumah warga. Selain itu terdapat juga plang jalur evakuasi dan titik kumpul masyarakat yang digunakan untuk situasi darurat ketika terjadi bencana alam seperti erupsi Merapi.

Bangunan yang menjadi titik kumpul ketika terjadi bencana 
dilengkapi dengan plang arah evakuasi, sumber : dokumen pribadi 10 April 2014

Siang itu relatif sepi, mungkin warga beristirahat sehabis mencoblos.  Saya berkeliling blok perumahan, yang disebut sebagai huntap (hunian tetap). Saya berjalan di beberapa blok, terlihat lengang sekali, hingga akhirnya saya sampai ke blok D, saya melihat ada warga yang sedang duduk santai menemani seorang rekan sebaya dan tiga orang anak kecil.

Mawar terlihat kaget dengan kedatangan saya siang itu, namun setelah saya menjelaskan maksud kedatangan saya, dia mulai terlihat lebih santai berbicara dengan saya. “Saya kira mbak mau nulis untuk skripsi, banyak mahasiswa yang sering datang kesini untuk nulis skripsi” kata Mawar. Saya tersenyum mendengar penuturan Mawar, rupanya dusun Kuwang menjadi salah satu dusun yang sering dijadikan penelitian di bidang arsitektur dan pembangunan masyarakat.

“Kami memang merasa bersyukur saat ini sudah memiliki tempat tinggal, awalnya saya dan keluarga masih menempati huntara”. 

Huntara adalah hunian sementara sebelum menjadi huntap atau hunian tetap. Sebagian besar masyarakat korban erupsi dari berbagai dusun yang terkena dampak cukup parah telah dibuatkan oleh pemerintah bangunan hunian tetap lengkap dengan fasilitas umum (fasum) dan fasilitas sosial yang terletak di dusun Kuwang.
1. Bangunan Huntap di dusun Kuwang 
2. Tempat penampungan sampah sementara

Tanggal 9 November 2010, Kepala PMU REKOMPAK-JRF mengeluarkan kebijakan tentang Tata Cara Pemanfaatan Bantuan Dana Lingkungan (BDL) untuk Kegiatan Penanggulangan Dampak Bencana Erupsi Merapi. Kebijakan ini bertujuan untuk memaksimalkan kegiatan penanggulangan dampak bencana dan pendampingan bagi masyarakat desa yang mengutamakan pemberdayaan masyarakat desa.

Sebanyak 200 KK menjadi penghuni huntap di dusun Kuwang, namun belum semua bangunan resmi ditinggali oleh penduduk. Tanah yang ditinggali warga dusun Kuwang saat ini merupakan tanah khas desa, yaitu tanah yang dikuasai oleh pemerintah desa dan dapat digunakan untuk penyelenggaraan pembangunan dan pelayanan masyarakat desa. Masyarakat korban erupsi memilih bertahan dan tetap tinggal dekat dengan Merapi karena dianggap sebagai bagian dari kehidupan mereka.

“Mau tinggal di mana mbak?, saya sudah merasa nyaman tinggal di sini, belum tentu pindah di tempat yang baru kami bisa lebih baik, lagipula saya mau ambil uang dari mana kalau harus bangun rumah di tempat baru.”

Walaupun tempat tinggal mereka saat ini lebih sederhana, Mawar merasa tidak masalah apalagi merasa miskin. Menurut Mawar sebagian warga sebelumnya memang punya rumah yang cukup luas. Dahulu sebelum terjadi bencana erupsi, sebagian penduduk di lereng Merapi memiliki tanah dan rumah yang luas, rumah mereka katanya memang luas karena dipakai untuk menyimpan hasil kebun. Pemerintah memang memberi bantuan sebesar Rp30 juta untuk renovasi bangunan, selebihnya diserahkan kepada warga jika ingin mengubah atau menambah bangunan baru.

Bantuan rumah Rekompak dengan jumlah dana stimulan Rp30 Juta 

Mawar sendiri menambah bangunan baru di bagian depan rumahnya, yang ia digunakan untuk membuka warung kelontong kecil-kecilan. Mengandalkan hasil pertanian seperti sebelum terjadi erupsi Merapi dianggap kurang menguntungkan lagi. Mawar bertutur kalau saat ini dia ingin berjualan di rumah saja sekalian menemani anaknya di rumah.

Sampai saat ini yang dikeluhkan Mawar adalah masalah air bersih, air PDAM kadang tidak mengalir hinga berhari-hari karena jumlah terbatas sementara penduduk yang membutuhkan jumlahnya terus meningkat. Mawar memilih menggunakan air sumur, walaupun juga disediakan bak penampungan air, namun air di bak penampungan tersebut hanya cukup untuk konsumsi selama dua hari.

Kondisi drainase dan air PAM di blok huntap dusun Kuwang

Empat tahun terbilang relatif untuk mengukur seberapa cepat masyarakat bisa kembali membangun dan menata kembali kehidupan dan perekomiannya. Mawar tidak menuntut perubahan yang muluk-muluk, bisa merencanakan masa depan yang lebih baik saja sudah disyukurinya. Anak-anaknya masih bersekolah seperti biasa, masih bisa bermain dengan kawan sebayanya.

Kebutuhan dasar seperti sandang dan papan sudah terpenuhi, tantangan terbesarnya adalah penyesuaian dengan kondisi lingkungan yang juga masih baru. Namun Mawar optimistis jika bencana seperti erupsi Merapi bukan untuk ditakuti lagi, sekarang Mawar dan warga lainnya sudah jauh lebih siap dengan pengalaman bencana sebelumnya, terbukti dengan disediakannya fasilitas evakuasi dan jalur aman untuk evakuasi.

Selain Mawar, saya juga bertemu dengan beberapa warga dusun yang sementara menunggu hasil pemungutan suara pileg. Terlihat sejumlah warga yang sedang membereskan peralatan seperti mikrofon dan kursi-kursi. Saya berbincang dengan ibu paruh baya yang baru saja ikut pileg. “Mbak asalnya dari mana?”, saya menjawab kalau saya dari daerah lain (luar Jawa).

“Mba ikut milih ya? sekalipun bukan warga asli mbak bisa pakai e-KTP aja”. “Kami bersyukur karena di dusun Kuwang semua masyarakat ikut nyoblos hari ini, ya.. kecuali yang ada di luar negeri, kira-kira ada 200-an warga yang terdaftar sebagai pemilih dan sekitar seratus tujuh puluh lima yang ikut nyoblos hari ini.”

Ibu tersebut menuturkan kalau antusias warga sebelum dan sesudah erupsi Merapi masih tinggi. Sepertinya warga masih menaruh harapan besar pada calon pemegang amanah rakyat ini. Seperti kisah Mbah Marijan yang tetap setia menjaga amanah dari Sultan untuk menjadi juru kunci Merapi, semoga caleg pilihan rakyat dari dusun Kuwang mampu menjaga amanah dan memiliki keteguhan yang layak diapresiasi layaknya Mbah Marijan.


1. Suasana setelah pemilihan legislatif di dusun Kuwang
2. Masjid adalah fasilitas umum yang terdapat di dusun Kuwang

Di akhir perbincangan saya dan Mawar tersirat pesan sederhana namun sangat menyentuh saya yang lahir di daerah aman dari bencana. Mawar berharap air bersih tetap mengaliri bak penampungan air di dusun mereka. Kegiatan pemberdayaan masyarakat seperti pembuatan tempe yang belum berjalan, diharapkan bisa menggerakkan secara massal perekonomian penduduk kuwang.


Mawar bertutur dari dusun Kuwang, menitip pesan tersirat agar kita yang selama ini tinggal di daerah relatif aman dari bencana bisa belajar banyak dari warga Kuwang. Bagaimana mereka pernah terpuruk dan bangkit kembali untuk menyambut rencana hidup yang jauh lebih baik.

***
Tulisan ini dipersiapkan untuk mengikuti lomba menulis blog yang diadakan oleh Dompet Dhuafa Indonesia
periode 27 Maret sampai dengan 10 Mei 2014
@ratihalrasyid

INFORMASI LOMBA SILAKAN KLIK BANNER DI BAWAH INI.

0 comments:

Post a Comment

Apa pendapatmu?

Copyright © 2014-2018 Mimpi Kota